SANAK.ID, PELAIHARI – Menyikapi jeritan para nelayan kecil terkait karut-marut distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar, Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang menggelar rapat konsolidasi akbar pada hari ini, Minggu, 17 Mei 2026.
Pertemuan krusial yang diikuti oleh sekitar 40 orang ini dilaksanakan secara terpusat di Sekretariat HMI Cabang Tanah Laut, yang beralamat di Kelurahan Panggung, Pelaihari.
Massa yang hadir merapatkan barisan merupakan gabungan solid dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tanah Laut, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Politala, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politala, serta diperkuat oleh berbagai elemen mahasiswa, pemuda, hingga perwakilan masyarakat pesisir.
Konsolidasi hari ini difokuskan untuk menyatukan visi, menyusun strategi lapangan, serta merumuskan sikap bersama terkait dugaan praktik culas penyelewengan solar yang merugikan nelayan di pesisir Tanah Laut, khususnya di Desa Kuala Tambangan dan Desa Tabanio Kecamatan Takisung.
Dari hasil kesepakatan konsolidasi hari ini, Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang dipastikan akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran pada besok Senin, 18 Mei 2026. Massa berkomitmen untuk bergerak mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Tanah Laut tepat selepas waktu Zuhur demi menyuarakan keadilan bagi masyarakat pesisir.
Sengkarut bbm subsidi ini kian memanas setelah mencuatnya data teknis di lapangan mengenai tingginya defisit kuota solar nelayan, yang diperparah dengan dugaan penyelewengan berupa penguasaan barcode oleh oknum tertentu di Kuala Tambangan.
Sementara di Desa Tabanio, situasinya tak kalah pelik; para nelayan lokal bahkan mengaku mendapat intimidasi serta pemotongan jatah solar subsidi sepihak yang membuat mereka kesulitan untuk melaut.
Padahal, berdasarkan regulasi nasional, harga eceran resmi untuk BBM bersubsidi jenis Solar (Biosolar) telah dipatok pemerintah sebesar Rp6.800 per liter demi menopang ekonomi nelayan kecil. Namun realitanya, harga di lapangan kerap melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) tersebut akibat adanya dugaan permainan.
Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, M. Ilmi, menegaskan bahwa para mahasiswa, pemuda, dan elemen masyarakat tidak akan tinggal diam melihat nasib nelayan yang terus dipermainkan selama bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian konkrit.
”Kami dari Aliansi Tuntung Pandang menuntut ketegasan dari para wakil rakyat. Besok kami membawa sejumlah tuntutan sikap yang wajib dipenuhi dan disikapi serius oleh DPRD Kabupaten Tanah Laut,” tegas M. Ilmi dengan lantang di hadapan massa konsolidasi.
Gerakan ini berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas ke meja legislatif dan menolak bungkam sebelum mendapat komitmen nyata dari para wakil rakyat. “Sekian dari kami, diam tertindas atau bangkit melawan sebab diam adalah bentuk pengkhianatan! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Hidup nelayan!” pungkas Ilmi membakar semangat massa. (WB)










