SANAK.ID, Pelaihari – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tanah Laut (Tala) menjadi saksi bisu pergeseran tren pemenuhan gizi masyarakat. Dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek), Ketua TP PKK Tala, Hj. Dian Rahmat, menyosialisasikan gerakan B2SA (Beragam, Bergizi, Sehat, dan Aman) di hadapan 25 kader PKK dan Posyandu se-Kabupaten Tanah Laut. Rabu (13/05/2026)
Edukasi yang menyasar langsung para kader penggerak di masyarakat ini sengaja digelar demi mendongkrak kesadaran kolektif. Tujuannya jelas: membangun pemahaman yang lebih matang mengenai pentingnya konsumsi pangan yang tidak hanya seimbang secara nutrisi, tetapi juga terjamin keamanannya bagi kesehatan tubuh jangka panjang.
Dalam pemaparannya, Hj. Dian menegaskan bahwa pemenuhan gizi hari ini tidak bisa lagi sekadar mengandalkan slogan lama “4 sehat 5 sempurna” karena dinilai sudah kurang memadai untuk kebutuhan saat ini. Ia menjelaskan bahwa Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan telah mengamanatkan pentingnya penganekaragaman pangan. Diversifikasi inilah yang menjadi kunci utama untuk menunjang kehidupan masyarakat yang sehat, aktif, sekaligus produktif.
“Masyarakat kita memerlukan wawasan yang tepat mengenai makanan yang memenuhi kriteria gizi seimbang dan bervariasi. Jadi, sebuah hidangan itu tidak boleh hanya mengejar rasa yang enak atau tampilan visual yang memikat mata, tetapi aspek keamanan pangan saat dikonsumsi juga harus menjadi prioritas utama,” tutur Hj. Dian.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya peran para ibu rumah tangga dalam menyeleksi bahan pangan keluarga. Ketelitian ekstra sangat dibutuhkan, terutama dalam memantau higienitas proses produksi serta meminimalkan paparan atau penggunaan zat kimia sintetis pada makanan. Menurutnya, setiap individu memiliki struktur kebutuhan nutrisi yang unik dan berbeda-beda, mulai dari pasokan karbohidrat, protein, vitamin, hingga zat mineral.
“Keseimbangan asupan gizi ini harus benar-benar dikontrol dengan jeli. Sebab, pola konsumsi yang berlebihan justru berisiko menjadi bumerang dan memicu datangnya berbagai macam penyakit kronis,” tambahnya.
Menariknya, ia menyebutkan bahwa menerapkan pola makan sehat sama sekali tidak identik dengan biaya yang mahal. Sebagai langkah konkret, Hj. Dian mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap produk makanan kemasan impor yang beredar, dan mulai mengalihkan fokus pada komoditas pangan lokal yang jauh lebih segar, sehat, serta mudah ditemukan di sekitar kita.
Menurutnya, sentuhan kreativitas dalam mengolah potensi alam sekitar bisa menjadi solusi jitu untuk menyajikan menu bermutu tinggi bagi keluarga tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Dibandingkan membeli produk luar negeri, masyarakat diajak untuk memaksimalkan bahan pangan lokal yang melimpah dan ramah di kantong, seperti ikan haruan (gabus), ubi, singkong, serta jagung. (SANAK.ID/ARIYANI).










