Menu

Dark Mode
Terbongkar! Alasan di Balik Drama Begal Pedagang Bakso di Batu Ampar yang Sempat Viral Tanah Laut Dorong Gerakan Penghijauan melalui Program Desa Menanam Satlantas Polres Tanah Laut Hadirkan Replika Polantas untuk Tingkatkan Kesadaran Berkendara Peringati Hari Bumi, Bupati Ajak Masyarakat Lebih Peduli Lingkungan Sinergi Brantas Narkoba: Pemkab Tanah Laut Ganjar Satresnarkoba Penghargaan Atas Ungkap Kasus Besar Perlindungan Pekerja Rentan Ditingkatkan, Pemkab Tanah Laut Gandeng BPJS Ketenagakerjaan

Entertainment

Dari Satu Pengrajin hingga Panggung Eropa, Menelisik Jejak Kebangkitan Sasirangan Tanah Laut

Avatar photobadge-check


					Dari Satu Pengrajin hingga Panggung Eropa, Menelisik Jejak Kebangkitan Sasirangan Tanah Laut Perbesar

SANAK.ID,PELAIHARI – Gemuruh tepuk tangan di Antwerp Central Station, Belgia, pada pertengahan Desember lalu, menjadi puncak manis bagi perjalanan panjang kain Sasirangan khas Kabupaten Tanah Laut (Tala). Keberhasilan Sasirangan Tala menjadi satu-satunya wakil kabupaten dari Indonesia di ajang Indonesia Creative Week (ICW) bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari transformasi panjang yang dirintis lebih dari satu dekade silam.

 

Jejak Langkah dari Tahun 2010-an

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerind) Tanah Laut, Nurmaya Savitri, ST., MS, menceritakan bahwa ekosistem pengrajin di Tala dibangun secara bertahap dari jumlah yang sangat minim. Saat di temui di showroom Dekranasda Tanah laut (25/12/2025)

“Perjalanannya cukup panjang. Pada kisaran tahun 2010-an, kita awalnya hanya memiliki satu orang pengrajin di Tanah Laut,” kenang Nurmaya.

Pemerintah daerah kemudian bergerak aktif menggelar berbagai pelatihan untuk menumbuhkan minat dan keahlian warga. Upaya ini mulai membuahkan hasil nyata pada tahun 2014.

“Di tahun 2014, mulai muncul pengrajin-pengrajin baru, khususnya di Desa Martadah dan Banyu Irang, sebagai hasil dari pelatihan-pelatihan yang kita adakan. Alhamdulillah, saat ini jumlahnya terus berkembang menjadi 28 pengrajin yang tersebar luas, mulai dari Kecamatan Bati-Bati, Pelaihari, Banyu Irang, Bajuin, hingga Kintap,” ungkap Nurmaya.

Ket. Nurmaya Savitri, ST., MS, menceritakan bahwa ekosistem pengrajin di Tala dibangun secara bertahap.

Inovasi Teknik “Ringkel” dan “Colet”

Kuantitas pengrajin yang bertambah dibarengi dengan peningkatan kualitas teknik. Agar mampu bersaing di pasar global dan memiliki ciri khas dibanding daerah lain di Kalimantan Selatan, para pengrajin Tala memperdalam ilmu hingga ke Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.

Nurmaya menjelaskan bahwa identitas baru Sasirangan Tala terletak pada keberanian memadukan teknik tradisional dengan sentuhan modern.

“Sasirangan kita unik dan berbeda. Kita mengombinasikan Sasirangan dengan teknik Ringkel serta teknik batik tulis atau Colet,” jelas Nurmaya. Perpaduan teknik ini melahirkan motif yang orisinal, bertekstur unik, dan bernilai seni tinggi sehingga lebih diminati pasar modern.

Dukungan Penuh Menembus Batas,Transformasi produk ini disambut dengan strategi pemasaran yang agresif dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tanah Laut. Ketua Dekranasda Tala, Hj. Dian Rahmat, menjadi motor penggerak yang memastikan karya para pengrajin ini mendapatkan panggung yang layak.

Ket. Ketua Dekranasda Tala, Hj. Dian Rahmat, sebagai pendorong karya pengrajin tampil dipanggung internasional.

Dari level nasional di Plaza Indonesia Fashion Week Jakarta, hingga akhirnya menembus kurasi ketat untuk tampil di Belgia bersama Native Indonesia. Hj. Dian menegaskan bahwa perjuangan ini adalah bentuk komitmen nyata daerah.

“Kami akan terus berjuang untuk memajukan IKM dan produk unggulan Tanah Laut, meskipun dengan keterbatasan anggaran,” ujar Hj. Dian Rahmat dalam keterangannya.

Kini, Sasirangan Tala tidak hanya menjadi lembaran kain, tetapi menjadi simbol kebangkitan ekonomi kreatif daerah. Di Belgia, kain ini tidak hanya dipamerkan, tetapi diperagakan oleh model internasional dan diminati desainer Eropa.

Nurmaya berharap, eksposur internasional ini membawa dampak riil bagi kesejahteraan 28 pengrajin yang kini menjadi tulang punggung produksi Sasirangan Tala. Selain Sasirangan, produk turunan seperti Kopiah Tuntung Pandang dan tas anyaman purun juga turut diperkenalkan.

“Harapan kami, Sasirangan dan kerajinan Tanah Laut lainnya semakin diminati pasar internasional dan tentunya berdampak pada peningkatan ekonomi pengrajin kita,” tutup Nurmaya optimis.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Terbongkar! Alasan di Balik Drama Begal Pedagang Bakso di Batu Ampar yang Sempat Viral

8 May 2026 - 15:10 WITA

Tanah Laut Dorong Gerakan Penghijauan melalui Program Desa Menanam

8 May 2026 - 14:31 WITA

Satlantas Polres Tanah Laut Hadirkan Replika Polantas untuk Tingkatkan Kesadaran Berkendara

8 May 2026 - 12:36 WITA

Peringati Hari Bumi, Bupati Ajak Masyarakat Lebih Peduli Lingkungan

8 May 2026 - 11:07 WITA

Sinergi Brantas Narkoba: Pemkab Tanah Laut Ganjar Satresnarkoba Penghargaan Atas Ungkap Kasus Besar

4 May 2026 - 23:04 WITA

Trending on Kalimantan Selatan