SANAK.ID, PELAIHARI – Lembaga AR Learning Center menggelar pelatihan dan sertifikasi Certified Indonesian Journalist (CIJ) secara daring guna memperkuat kompetensi serta integritas jurnalis di tengah pesatnya perkembangan ekosistem media digital, Senin (10/8/2026).
Program pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai dunia kewartawanan. Peserta dibekali pengetahuan mendasar terkait pencarian ide berita, penentuan nilai berita, teknik wawancara, pemahaman kode etik, verifikasi informasi, hingga pengolahan data menjadi karya tulis yang informatif dan bertanggung jawab.
Owner AR Learning Center, Andre Hariyanto menegaskan bahwa setiap peserta pelatihan wajib menguasai teori sekaligus membuktikannya melalui ujian praktik.
Menurutnya, keberadaan tugas dan ujian praktik merupakan parameter utama untuk mengukur kompetensi jurnalis agar mampu mengaplikasikan ilmunya secara nyata di lapangan.
“Pelatihan ini diadakan agar dapat diaplikasikan di lapangan sesuai ilmunya, sesuai bidang, dan tidak asal bergerak tanpa ilmu. Pelatihan ini nanti juga ada ujian praktiknya sebagai bentuk uji kompetensi. Namanya juga pelatihan, tentu ada praktiknya,” ujar Andre Hariyanto.
Ia menjelaskan bahwa standar kelulusan sertifikasi CIJ mewajibkan penyelesaian tugas praktik sebagai bukti bahwa jurnalis yang dilatih benar-benar memiliki kualifikasi profesional.
“Jadi tetap nanti setelah pelatihan ada tugas ujian sebagai syarat kelulusan, terutama bagi peserta wajib mengerjakan tugas sebagai syarat kelulusan,” tegas Andre Hariyanto.
Dalam sesi pemaparan materi, narasumber pelatihan CIJ, Adityas Rahadi mengulas secara mendalam pergeseran pola konsumsi informasi publik.
Saat ini, masyarakat lebih banyak menyerap berita melalui portal berita online, media sosial, maupun platform digital dibandingkan media cetak konvensional.
Adityas menekankan bahwa seorang jurnalis wajib memahami struktur penulisan piramida terbalik. Metode ini menempatkan inti informasi paling krusial pada paragraf teratas (lead/teras berita), sementara bagian bawah diisi dengan detail pendukung yang bersifat melengkapi.
“Piramida terbalik itu prinsipnya menulis yang paling penting di paragraf paling atas, sedangkan di bagian bawah itu pelengkap. Jadi makin ke bawah sifatnya semakin pelengkap atau keterangan tambahan,” jelas Adityas Rahadi.
Selain teknik penulisan, Adityas menggarisbawahi pentingnya menemukan motif dan tujuan dalam menulis. Menulis berita bukan sekadar aktivitas untuk diri sendiri, melainkan proses komunikasi yang ditujukan kepada publik dengan mempertimbangkan segmentasi pembaca serta gaya bahasa yang tepat.
Ia juga memperingatkan peserta akan daya pengaruh media yang sangat besar. Penyajian berita yang tidak objektif atau diambil dari sudut pandang yang keliru dapat memanipulasi fakta, mengubah citra seseorang, hingga memutarbalikkan posisi antara korban dan pelaku.
“Media itu punya dampak besar, bagaikan dua mata pisau. Antara korban dan pelaku seakan-akan bisa terbalik, yang korban menjadi pelaku dan yang pelaku menjadi korban, karena diambil dari sudut pandang yang berbeda,” tutur Adityas Rahadi.
Dalam pelatihan ini, peserta juga dibekali pemahaman mengenai berbagai jenis berita, mulai dari straight news/hard news (berita politik, ekonomi, sosial, dan kriminalitas), soft news (berita ringan seperti olahraga, hiburan, dan hobi), feature (berita kisah berunsur human interest), hingga investigative news (hasil penyelidikan mendalam).
Baca Juga : Pamerkan Potensi “Bumi Tuntung Pandang”, Bupati Tanah Laut Sambut Kunjungan Istri Menteri LH
Untuk membendung bahaya disinformasi dan manipulasi data, jurnalis dituntut memegang teguh lima ciri utama jurnalistik:
Skeptis: Sikap selalu mempertanyakan informasi, tidak mudah percaya pada sumber tidak jelas, serta menerapkan prinsip tabayun (verifikasi fakta).
Bertindak (Action): Aktif mencari, mengamati, dan menggali fakta di lapangan menggunakan naluri kewartawanan, bukan sekadar menunggu peristiwa terjadi.
Berubah: Memahami perubahan peran media di era modern yang kini bertindak sebagai fasilitator, penyaring, dan pemberi makna atas sebuah informasi.
Seni dan Profesi: Mampu melihat setiap peristiwa dari sudut pandang yang segar untuk menangkap aspek unik (human interest).
Peran Pers: Menjalankan fungsi pers sebagai pelapor (mata dan telinga publik), interpreter, wakil publik, serta watchdog (peran jaga).
Adityas mengarahkan para peserta untuk menguasai kelengkapan unsur 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) di setiap karya tulis.
Penulisan berita merupakan tahap akhir dari proses panjang yang diawali dari pengamatan masalah, penetapan narasumber, wawancara, pengumpulan data, hingga verifikasi faktual.
Melalui pelatihan sertifikasi CIJ ini, AR Learning Center berharap dapat mencetak insan pers dan penggiat komunikasi yang tidak hanya cepat dalam menyampaikan berita, tetapi juga mengedepankan akurasi, kejujuran, dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. (SANAK.ID/ALI).










