SANAK.ID, PELAIHARI – Momentum bulan suci Ramadhan dimanfaatkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tanah Laut untuk memperkuat simpul organisasi melalui agenda silaturahmi, diskusi intelektual, hingga konsolidasi gerakan di Java Presto (Presto Solo), kawasan RTH Kijang Mas Atu-Atu, Pelaihari, Kamis (5/3/2026).
Acara yang berlangsung khidmat sejak sore hari ini dihadiri puluhan kader aktif serta jajaran tokoh organisasi. Tampak hadir Drs. H. Hamdan dari KAHMI Tanah Laut, M. Hartono selaku Ketua MPK HMI Tanah Laut, serta Ketua Umum HMI Cabang Tanah Laut, Zulkifli bersama jajaran pengurusnya.
Agenda dibuka dengan bedah buku karya M. Dahlan berjudul “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur” yang disampaikan oleh Yunda Diah Ayu Fatimah. Pemilihan buku ini bukan tanpa alasan; HMI seolah ingin menegaskan bahwa di tengah kesyahduan Ramadhan, nalar kritis tidak boleh tertidur.
Diskusi ini menjadi ajang “pemanasan” intelektual, menggugat kejumudan berpikir, dan mengasah keberanian kader dalam membedah realitas sosial yang kerap kali tabu untuk dibicarakan.

Pesan Penguatan Kader
Dalam sesi sharing, Drs. H. Hamdan mewwakili KAHMI Tanah Laut, memberikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga kualitas intelektual di dalam organisasi.
Ia menekankan bahwa kegigihan dalam berproses adalah kunci utama bagi setiap kader dalam menghadapi dinamika sosial.
“Adek-adek di HMI jangan sampai kehilangan gairah membaca dan diskusi. Ilmu itu senjata, tanpa itu kalian cuma bakal jadi penonton di daerah sendiri. Teruslah berproses, karena hasil tidak akan mengkhianati usaha keras kita hari ini,” tegas H. Hamdan memberikan motivasi.

Konsolidasi dan Pengawalan Isu Daerah
Menyambung hal tersebut, Ketua Umum HMI Cabang Tanah Laut, Zulkifli, menjelaskan bahwa rangkaian acara ini merupakan langkah strategis untuk menyatukan persepsi seluruh pengurus dan anggota dalam mengawal kebijakan publik.
Bagi HMI, buka bersama hanyalah pintu masuk menuju meja perundingan yang lebih substansial.
“Tujuan kita berkumpul bukan cuma buat makan-makan. Kita ingin menghidupkan kembali budaya literasi lewat bedah buku tadi. Selain itu, momentum Ramadhan ini kami pakai untuk konsolidasi daerah. Banyak isu di Tanah Laut yang butuh pengawalan kritis dari mahasiswa,” ujar Zulkifli.
Setelah berbuka puasa dan menunaikan ibadah sholat Maghrib, suasana justru semakin intens. Jika sore hari diisi dengan bedah buku yang bersifat filosofis, maka malam harinya menjadi ajang konsolidasi taktis.
Para kader membedah carut-marut isu daerah di Kabupaten Tanah Laut, merumuskan poin-poin kritikan, dan menyiapkan barisan untuk memastikan pembangunan daerah tetap berada di relnya.
Konsolidasi ini menjadi bukti nyata bahwa HMI Tanah Laut enggan sekadar menjadi organisasi seremonial.
Mereka memilih jalan sunyi literasi dan jalur terjal pengawalan kebijakan demi memastikan kepentingan masyarakat luas tidak terpinggirkan oleh kepentingan elit. (SANAK.ID/ALI)










